Banyaknya dan rutinitas pemberian hadiah di setiap kompetisi yang rutin diadakan oleh Organisasi Penggemar Burung Merpati Tinggi Indonesia (PMTI) dua kali setiap bulannya membuat banyak penghobi burung merpati tak segan-segan merogoh kocek sekitar Rp. 130.000 sampai Rp. 160.000 sebagai biaya pendaftaran kompetisi.
Lalu, bagaimana dengan persaingan teknis untuk burung merpati tinggi di bawah meja? Bagian Kompetisi PMTI menjelaskan bahwa kompetisi biasanya diadakan selama tiga hari dari hari Jumat hingga Minggu.
Peserta biasanya mendaftar pada hari Rabu. Setelah melakukan registrasi, peserta dan burungnya diperbolehkan melakukan orientasi agar burung terbiasa dengan arena pertandingan. “Latihan tahap pertama 100 meter, lalu 200 meter, dan seterusnya. Kalau burung langsung diterbangkan dari jauh bisa kabur,” ujar salah satu penyelenggara lomba.
Memanggil Merpati Jantan
Perlombaan dimulai. Nama satu peserta biasanya diwakili oleh dua orang. Tugas mereka bermacam-macam, satu orang melepaskan burung di titik awal yang berjarak 1,2 kilometer dari arena perlombaan.
Satu orang lagi sedang bertugas di dalam arena perlombaan atau arena balap di atas tanah seluas 9x9 meter persegi dengan tiang bambu setinggi 9 meter di setiap sudutnya.
Satu tiang bambu dengan bambu lainnya dihubungkan dengan rangkaian bendera kecil membentuk kubus.
Joki pangkat kemudian berdiri di belakang meja sambil membawa burung merpati betina.
Tugasnya adalah memanggil burung utama yang dilepaskan dari jarak jauh. Induk burung dipanggil dengan cara melambai-lambaikan sayap burung betina sehingga burung tersebut bertengger tepat di atas meja yang tersedia di bawah tumpukan. “Meja itu berukuran 60x60 sentimeter.
Joki tidak boleh menerbangkan sayap burung sebelum peluit wasit, dapat didiskualifikasi. “Saat burung mendekati dasar, wasit akan meniup peluit,” terangnya.
Lebih lanjut Aris menjelaskan, saat wasit meniup peluit, induk burung harus langsung mendarat di meja sebelah kanan. “Jadi penilaiannya adalah kecepatan dan ketepatan.
Jika burung itu cepat tetapi jatuh di meja yang salah, ia tetap dianggap kalah dan didiskualifikasi. “Yang menang akan diperebutkan lagi sampai ada juara 1,” terangnya.
Merpati Kolong Meja Memiliki Kebanggan Tersendiri Dalam Perlombaan
Sebelumnya, bagi penggemar merpati di seluruh Indonesia, mengikuti lomba merpati tingkat tinggi di bawah meja adalah suatu kebanggaan tersendiri.
Kompetisi ini rutin diadakan setiap dua minggu sekali oleh organisasi Fans Merpati Tinggi Indonesia (PMTI) se-Jawa Barat dan Jawa Tengah.
“Kompetisi skala nasional yang dibuat oleh PMTI.
Dalam satu bulan biasanya dua kali. Secara bergiliran, sekali di Jawa Barat sekali di Jawa Tengah. Mereka yang berpartisipasi dari seluruh Indonesia ”.
Kebanyakan orang terkadang menyepelekan persaingan ketangkasan burung merpati yang kerap digelar di lahan kosong.
Namun ternyata, meski terlihat sederhana, hadiah yang bisa dimenangkan cukup menggiurkan.
Menurutnya, puluhan juta rupiah bisa didapatkan oleh para pemenang kompetisi tingkat nasional. “Total hadiah minimal Rp 75 juta.
Tapi sekarang rata-rata (untuk setiap perlombaan) lebih dari Rp. 100 juta. Jika ingin mengikuti lomba, dikenakan biaya pendaftaran mulai dari Rp130.000 hingga Rp160.000, ”terangnya. Sangat menggiurkan, meraih podium juara bukanlah hal yang mudah.
Pasalnya, peserta yang mengikuti kompetisi yang bisa digelar selama tiga hari ini dipastikan mencapai seribu orang. "Biasanya 1.500 peserta. Bahkan ada yang mencapai 2.000 peserta," ucapnya.
Merpati Kolong Meja Bermahar 1 Miliar
Jayabaya, Merpati Kolong Meja yang dibandrol dengan harga Rp. 1 milyar, resmi menjadi milik Robby Eka Wijaya. Burung dengan banyak prestasi ini menarik minat Robby sejak 2018.
Dara itu aslinya milik Aristyo Setiawan. Dia membeli Jayabaya seharga Rp. 50 juta dari seorang teman. Proses jual beli Jayabaya berlangsung pada hari Jumat, 28 Juni 2019. Robby membeli Jayabaya dengan menggunakan rekening koran.
Proses melatih merpati untuk kompetisi memang tidak mudah. Bagi Aris, butuh waktu sekitar satu tahun untuk memantapkannya. Jayabaya dilatih untuk mengkhususkan diri pada merpati tinggi 'di bawah meja'.
“Jadi tidak mudah melatih burung champion. Apalagi, keistimewaan merpati tinggi 'di bawah meja'. Tapi, Jayabaya bisa membuktikannya,” kata Aris.
Sekarang Jayabaya sudah berumur dua tahun. Banyak prestasi yang diraih Jayabaya. Mulai dari 10 besar hingga juara 1 buruk terbaik dalam kompetisi yang rutin diadakan oleh Fans Merpati Tinggi Indonesia (PMTI).
Prestasi tertinggi yang diraih Jayabaya adalah Juara PMTI Klasmen 2018. Hanya setahun setelah mengikuti kompetisi tingkat nasional, Jayabaya menorehkan puluhan prestasi. Ini merupakan rekor luar biasa untuk seekor merpati seusia Jayabaya.
Jadi syaratnya setiap mengikuti kompetisi, minimal harus masuk 10 besar, ada juga beberapa juara pertama. Tahun lalu juara pertama di klasemen nasional, kata Aris.
Gengsinya sebagai burung juara juga membuat harganya selangit. Jayabaya tidak selalu yang terbaik. Namun, konsistensi dalam setiap balapan menjadi daya tarik tersendiri. Inilah salah satu alasan yang membuat Robby ingin memiliki Jayabaya.
"Dalam setahun mereka bisa mengikuti 15 sampai 20 pertandingan. Persentase kemenangannya 70 persen sampai 80 persen," kata Robby.
Baca Juga: Bagaimana Mencetak Merpati Kolong Juara ?
Itulah diatas beberapa bahasan mengenai Merpati Kolong Meja yang dapat saya sampaikan. Semoga bisa bermanfaat buat kamu semuanya yaa.
Comments
Post a Comment